« Home | Human and the Unfinished Matters » | Tidak Menjadi Aedificium » | Tidak Ada Tempat untuk Membaca » | Libur Akhir Tahun » | Sacrifed @ A Christmas Eve » | How Flat Should You Go? » | GKI Kayu Putih dan Goenawan Mohamad » | Flattening the World » | American Inventor (2) » | American Inventor (1) »

Pantomim Bizot, Pantomim Kehidupan?

Di tengah kepenatan dan banyaknya pikiran yang berkecamuk di hari Jum’at lalu, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menonton pantomim Bizot (bagian dari Le Printemps Français 2008 yang diselenggarakan CCF). Awalnya hanya merupakan niat iseng karena belum pernah menonton satu pementasan pantomim penuh. Yang jelas, akhirnya saya sangat menikmati pementasan dari Phillipe Bizot, yang menurut saya adalah seorang entertainer sejati!

Apa yang unik dari pementasan pantomim? Bagi saya yang lebih terbiasa mengikuti gaya seni teater kontemporer—penuh dengan visual dan audio, kesempatan menajamkan perasaan melalui indra visual benar-benar menjadi kenikmatan tersendiri. Kesempatan dimana saya bisa menikmati penampilan sang seniman tanpa perlu “didoping” oleh berbagai efek suara atau dukungan lainnya. Dan entah mengapa, saya menjadi berpikir mengenai kehidupan sehari-hari.

Hidup saat ini mungkin bisa dibilang hidup yang sangat tidak bebas dari polusi suara. Ya, memang suara-suara di sekeliling kita ada yang indah dan perlu untuk didengar. Akan tetapi, betapa banyak pula yang semata-mata menjadi polusi? Memabukkan kita dengan berbagai gosip, cemoohan, atau dengan berbagai bunyi yang sebenarnya tidak perlu—tapi sadar atau tidak, kita menjadi semakin ketagihan, addicted dengan bunyi di sekeliling kita. Begitu keluar dari kantor dan masuk ke kendaraan kita (atau menumpang kendaraan umum), segera kita memasang radio atau MP3 player. Begitu sampai di rumah, televisi dengan suara-suara narator acara gosip segera menemani kita di rumah. Bahkan ketika berbicara dengan teman-teman kita pun, acapkali yang kita terima semata-mata suara-suara yang tidak selalu berdampak positif.

Kesempatan untuk menikmati keheningan—atau menikmati keindahan dunia dalam keheningan—menjadi suatu permata yang sangat berharga di zaman yang semakin menghargai kebisingan ini. Kesempatan untuk menikmati hubungan dengan rekan-rekan tanpa dinodai oleh suara-suara yang saling menjelek-jelekkan, kesempatan dimana kita dapat melihat seseorang apa adanya dalam kadar pribadi seutuhnya.

Pantomim Bizot, Pantomim kehidupan? Pantomim Bizot mengajar kita untuk melihat secara lebih mendasar.

Links to this post

Create a Link