« Home | Lucky Man » | Perubahan Semu » | Refleksi Pra Liburan » | Di Antara Beberapa Pilihan » | What A Team » | Unpleasant Dream » | Eksistensi » | B 3459 EK vs B 6930 UET » | Selamat Ulang Tahun » | 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan »

Parakan

Secara fisik, cukup banyak perubahan yang saya lihat ketika saya akhirnya menginjakkan kaki kembali di kota ini—setelah sekitar 1 tahun lebih saya tidak mengunjunginya. Terlihat semakin banyak pengaruh dari globalisasi dan modernisasi di kota ini, kota yang dulunya sederhana sekali. Beberapa minimarket mulai menjamur. Toko handphone yang sepertinya kini menjadi simbol suatu kota, juga terlihat menjamur di kota ini—saya bahkan sempat membeli kartu perdana di salah satu toko yang ada. Terasa ada perubahan di kota ini. Entah itu menuju ke arah yang positif atau malah ke arah yang negatif.

Akan tetapi di tengah perubahan ini saya masih dapat merasakan kehangatan pribadi-pribadi di kota ini. Masih ada Om Gin yang berdagang di toko sebelah yang masih tetap mengingat saya. Dan masih tetap rajin menanyakan kabar saya walaupun seingat saya sebenarnya beberapa pertanyaan yang diajukannya kali ini sebenarnya pernah saya jawab dengan jawaban yang sama persis tahun lalu :). Masih ada seorang tetua di kota ini yang masih ingat ke saya (bahkan ketika saya sebenarnya sudah lupa namanya—kelewatan banget sih saya). Dan masih ada segudang pribadi-pribadi lain yang kehadirannya pernah menyentuh dan mempengaruhi hidup saya di kota ini.

Terlepas dari semua kondisi kota ini dengan pribadi-pribadinya (yang bukan menjadi inner circle saya), kota ini tetap menjadi kota yang bernilai bagi saya. Dipastikan bahwa kota ini pasti menjadi lokasi bersua dengan sepupu-sepupu saya (yang lagi-lagi, jarang dapat saya temui. Sepertinya saya memang paling sulit untuk dapat berkumpul). Kota ini yang selalu berperan menyatukan/mempertemukan kami, dan membuat kejutan bagi saya dengan memperlihatkan betapa bertumbuhnya sepupu-sepupu saya itu—terlebih 2 sepupu yang ketika kecilnya dapat dikatakan cukup akrab dengan saya.

Permasalahannya, apakah memang saya dapat tinggal dan kerasan di kota ini (dan kota-kota sejenisnya?). Terus terang, setiap kali ada di Parakan, pekerjaan saya sehari-hari dapat ditebak: pagi sarapan nasi rames di Mbok Carik atau soto di pasar; seharian nonton TV atau tidur; malam makan nasi goreng kambing atau mie godog di seberang jalan. Keseharian Parakan memang menawarkan sejuta kesempatan untuk bermalas-malasan untuk orang-orang perkotaan. Dengan udara yang sejuk dan makanan yang, hmmmm, enak-enak namun murah, sepertinya godaan untuk menjadi tidak produktif sangat besar. Dan dapat dikatakan saya selalu kalah ke godaan ini tiap kali ada di Parakan. Konyolnya, dalam hati kecil saya tidak menikmatinya, tapi secara fisik saya mengikuti godaan tersebut. Daging memang lemah....

Beruntung juga saat ini (akhirnya) saya memiliki ThinkPad yang dapat menemani saya ketika mencoba membuat tulisan atau pekerjaan lain untuk mengupayakan produktivitas di waktu-waktu ini. Padahal sebenarnya dalam hati kecil, dari dulu tidak adanya kegiatan ini sangat mengganggu tiap kali ada disini.

Sepertinya memang kesibukan di Jakarta selama ini telah membuat saya menjadi orang yang memiliki ketergantungan ke kegiatan. Kegiatan’o’holic (???). Mungkin ada baiknya saya melihat teman saya yang pernah mengatakan: istirahat adalah proyek ketaatan. Satu hal yang saya lihat telah dipelajarinya (setelah sebelumnya kami berdua sama-sama orang yang tidak bisa diam).